Dinamika Perguruan Tinggi (PTS yang Kolaps)

Muh. Samsudin
Buyung
Zulyadaini

STIE KERJASAMA YOKYAKARTA

Yaden UNBARI

Organisasi adalah wadah berkumpulnya berbagai komponen yang memiliki visi dan misi yang sama dan searah untuk mencapai sutu tujuan. Pencapaian tujuan terwujud melalui sebuah proses dan interaksi yang sistematis sesuai dengan fungsi dan tugasnya pada masing masing posisi dalam satu kesatuan sistem organisasi. Masalah akan muncul pada saat komponen komponen organisasi tidak berjalan sesuai dengan arah yang seharusnya dituju. Sebuah organisasi yang Besar tidak selamanya menjadi besar dan kuat jika tidak mampu mengeliminasi persoalan persoalan yang muncul baik dari internal organisasi maupun eksternal organisasi. Oleh karena itu sebuah organisasi yang besar dan kuat harus pula didukung oleh managemen dan leadership yang kuat. Managemen dalam sebuah organisasi yang besar tetapi tanpa ledership yang kuat seperti pesawat terbang tanpa kompas. Begitupula yang terjadi pada sebuah perguruan Tinggi Swasta Terkenal di Jogja di era tahun 1990-2000 an.

Trend pendidikan dan keterserapan para lulusan dan alumninya memberikan label pada perguruan tinggi ini sebagai sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal dan menjadi pilihan para calon mahasiswa. Peminat perguruan tinggi ini bukan hanya mahasiswa lokal tetapi mahasiswa luar jogja dan luar Jawa menjadikan kampus ini sebagai tujuan utama. Kampus ini awalnya sebuah Akademi, dan kemudian meningkatkan statusnya sebagai Sekolah Tinggi. Peningkatan status itu diikuti dengan dibukanya program baru dan jenjang pendidikan yang baru pula yaitu dari Diploma III ke Sarjana. Sebuah kampus yang cukup representative, megah, dipinggir jalur wisata ke arah pantai Parangtritis memiliki aura strtaegis di bagian selatan kota Yogyakarta. Tumbuhnya kampus di wilayah ini secara demografis mengangkat ekonomi masyarakat sekitar kampus dan tumbuh unit usaha baru sebagai penopang lingkungan kampus.
Asarama mahasiswa, warung makan, layanan jasa telekomunikasi (wartel), toko buku, swalayan tumbuh seiring majunya Perguruan tinggi.Kemampuan menampung mahasiswa pada setiap tahun barunya sekitar 1100 mahasiswa baru, angka yang cukup besar untuk sebuah sekolah tinggi di Jogja yang bersaing dengan 80 an lebih perguruan tinggi di Jogjakarta saat itu (tahun 90 an) dan 148 PTS di Jawa Tengah. (saat ini jumlah perguruan tinggi swasta di Jogjakarta adalah 116 PTS). Dengan jumlah mahasiswa sebesar itu, peruruan tinggi ini berjalan lincah dinamis, sampai kemudian mengalami penurunan akibat krisis ekonomi dan mulai terganggunya managemen perguruan Tinggi. Kejayaan kampus ini mulai memudar dan pamaornya mulai menurun. Seperti dikutip sebuah majalah : “STIE Kerja Sama di Yogyakarta juga mengalami nasib serupa. Sebelumnya, sekolah itu mampu menjaring 1.100 mahasiswa, kini cuma 800 Bahkan, lantaran terancam bangkrut, belakangan, lembaga pendidikan itu berniat menjual sebagian asetnya. “Sayang, sampai sampai saat ini belum juga laku,” kata Murthono Reksojoyo, Kepala Bagian Penelitian dan pengembangan STIE Kerja Sama. Namun, menurut para pengelola lembaga pendidikan perbankan itu, ambruknya dunia perbankan bukan satu-satunya penyebab anjloknya jumlah calon mahasiswa. Menurut mereka, hal itu lebih disebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Apalagi, ada kesan seolah dunia perbankan sudah kiamat. Itu semua sangat mempengaruhi calon mahasiswa yang ingin kuliah di lembaga pendidikan perbankan dengan harapan bisa bekerja di bank. Kendati begitu, para pengelola pendidikan perbankan itu rata-rata masih optimistis. Mereka yakin masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Jika kini potret dunia perbankan buram, tiga sampai lima tahun mendatang, mereka yakin akan muncul fajar yang cerah: ekonomi akan membaik, sehingga bisnis perbankan normal kembali. Ketika itulah dunia perbankan akan membutuhkan tenaga kerja terdidik. (D&R, Edisi 981003-007/Hal. 37 Rubrik Pendidikan)
Rupanya, kutipan yang ditulis oleh sebuah majalah tersebut tidak menjadi kenyataan, karena Perguruan Tinggi itu sekarang sudah tiada lagi. Para alumninya yang tersebar diberbagai perusahaan diberbagai kota tinggal memiliki kenangan indah masa lalu. Dari web. Blog yang dibikin para alumnya, dapat dilihat ekspresi emosional dan perasaan yang ada pada alumni tersebut. Ada yang mempertanyakan keberadaan kampusnya sekarang dimana ? ada juga yang menanyakan kalau legalisir ijazah dimana ya ? dan pertanyaan pertanyaan yang mungkin tidak pernah terbayang pada para mahasiswa yang dulu kuliah di era jayanya Perguruan Tinggi tersebut.
Selain pemicunya faktor eksternal, ada faktor internal yang menjadi penyebab utama surutnya kampus ini yaitu adanya ketidak sepahaman antara pihak yayasan dan rektorat. Disharmoni antara yayasan dan rektorat justru memberikan sumbangan besar terhadap runtuhnya kampus yang bagus itu. Perselisihan masalah kepemilikan dan hak mengelola, menjadikan munculnya kubu di tubuh yayasan dan juga ditubuh pimpinan universitas. Masing masing kubu dengan berbagai kepentingan melakukan klaim atas perguruan tinggi tersebut. Konflik tersebut menyebabkan kehidupan akademik menjadi terbengkalai dan mempengaruhi proses belajar mengajar dan layanan mahasiswa. Hak mahasiswa akan layanan akademik tidak bisa dipenuhi secara baik oleh pihak kampus. Beitupan juga yang terjadi pada para pegawainya, baik dosen dan karyawannya, hak kesejahteraan pegawai mulai terganggu dan mempengaruhi kinerja karyawan.
Ekspose media cetak dan elektronik menjadikan konflik di tubuh Perguruan Tinggi tersebut menjadi konsumsi publik dan dibaca seluruh lapisan masyarakat. Kerja keras yang dibangun selama ini oleh para civitas akademi lambat laun mulai memudar. Tentu hal tersebut merupakan iklan yang kurang sedap dimata para calon mahasiswa baru yang akan mendaftar di kampus ini. Dampaknya dari tahun ke tahun pendaftar dikampus ini, mengalami penuruanan dan berpengaruh pada kemampuan financial perguruan tinggi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas sumber pendapatan perguruan tinggi swasta di Indonesaia menjadikan mahasiswa sebagai sumber pendapatan utama. Karena merosotnya jumlah mahasiswa itulah yang kemudian menumbuhkan keinginian untuk menjual sebagian asset kampus yang megah dan menjadi primadana masyarakat saat itu. Fasilitas olah raga mahasiswa seperti lapangan basket, mulai dijual untuk kelangsungan hidup PT tersebut. Berat, tetapi berusaha untuk bisa berjalan.
Pada saat saat berat untuk mulai bangkit dan menata kembali kampus ini, terjadilah gempa yang mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kampus Megah yang sangat strategis itu tidak kuasa menahan goncangan gempa berkekuatan 5,9 skala reichter. Bangunan Kampus berlantai empat itu terpuruk dan menjadi saksi sejarah yang dikenang masyarakat Jogja dan kususnya para alumninya. Akankah Kampus itu akan berdiri kembali, dan mengukir sejarah baru.? Pasti sangat tergantung dengan pemahamahan visi dan misi para generasi penerus terhadap cita cita luhur didirikannya PT itu.

Berdasarkan pada ilustrasi di atas, dapat diambil beberapa poin penting sebagai berikut:

1. Kemampuan beradaptasi, membaca pasar dan peluang pengembangan bagi suatu organisasi menjadikan hal penting untuk survive ditengah ancaman dan tantangan. Keterlambatan dalam menyikapi sebuah perubahan akab berakibat fatal dan berdampak pada eksistensi organisasi. Pengalaman berubah dari Akademi menjadi Sekolah Tinggi merupakan pembelajaran berharga, bahwa trend masyarakat dan tuntutan pasar dapat dipenuhi oleh Organisasi. Sehingga Organisasi menjadi bisa hidup dan tetap bertahan. Namun hal itu tidak terulang pada saat krisis ekonomi global melanda perbankan dan berdampak pada intitusi pendidikan perbankan. Krisis ekonomi, juga berakibat pula pada perguruan tinggi lain di Jogja. Namun beberapa diantaranya bisa bertahan hidup dengan melakukan merger dengan perguruan tinggi swasta yang lain.
2. Problem Managemen dan Leadership, merupakan faktor penting bagi kelangsungan organisasi. Perbedaan faham yang timbul antara pemilik perguruan tinggi (yayasan) mempengaruhi kinerja Pimpinan Perguruan Tinggi dan berdampak pada kinerja. Dalam kasus ini tidak ada “team work” lagi. Perbedaan arah, dan pemahaman visi yang tidak sama menimbulkan ketegangan dan menimbulkan konflik sosial dan horizontal. Pada saat fungsi fungsi manajemen mulai terganggu maka dinamisasi organisasi mulai terganggu pula. Distribusi tugas dan peran dari penanggungjawab program tidak dapat berjalan sesuai dengan prosedur. Organisasi berjalan dengan pincang dan tidak kuat menopang serangkaian program yang harus diselesaikan. Legitimasi kepemimpinan yang bertugas membawa arah yang benar tidak mendapatkan dukungan secara penuh. Sehingga institusi berjalan seperti kapal karam. Dalam suatu organisasi Konflik dalam batas batas yang dapat dikendalikan oleh managemen berpotensi pada peningkatan kinerja organisasi. Tetapi jika konflik tersebut out of control aka sangat kontra produktif dan bersifat merusak.
3. Kepercayaan masyarakat. Trust, atau kepercayaan adalah modalitas utama bagi sebuah organisasi. Kepercayaan masayarakat terhadap suatu institusi merupakan suatu indicator kepuasan stakeholder akan produk yang dihasilkan. Kepercayaan tersebut sebenarnya dibangun oleh Perguruan Tinggi itu sendiri dengan menujukkan kinerja para alumninya. Keterserapan alumni PT yang sangat cepat dalam dunia kerja merupkan indicator mutu lulusan yang berkwalitas. Dari situlah image terbangun dan menimbuklkan ketertarikan masyarakat kepada organisasi. Alumni dapat menjadi media promosi yang paling efektif untuk menaikkan daya serap para calon pendaftar di PT. Selain itu peran media massa baik cetak ataupun elektronik merupakan sarana efektif untuk membangun branding dan pencitraan public. Pesan positif yang disampaikan media akan mendapatkan respon positif dan memunculkan image bagus bagi masyarakat. Untuk itulah kemampuan mengelola pesan menjadi skill dan pengetahuan penting bagi suatu organisasi.
4. Sinergi. Peluang penting yang seharusnya dapat dilakukan oleh PT adalah melakukan sinergi dengan intitusi yang memiliki komitmen dan visi yang sepaham. Sinergi ini dapat dilakukan dengan masing masing masing intitusi mendapatkan keuntungan yang berlebih dibandingkan dengan melakukannya secara sendiri. Dengan bersinergi sebuah organisasi akan memiliki kemampuan yang lebih dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Proses sinergi didalmnya akan terjadi sharring sumber daya dan sumber dana, pengembangan jaringan dan memperkuat posisi masing asing intitusi dtengah posisi intiusi yang lain.

5. Visi dan Misi Organisasi. Pemahaman visi dan misi organisasi merupakan hal yang sangat pengting dalam suatu institusi organisasi.Keberadaan organisasi baik pada saat sedang Berjaya maupun sedang surut perlu melakukan review pada visi dan misi organisasinya. Sangat dimungkinkan bahwa rapuhnya sebuah institusi, karena visi yang ingin dicapai sudah tidak sesui dengan perkembangan dan perubahan jaman. Organisasi menjadi dinamis apa bila mampu menangkap adanya perubahan dan melihat peluang peluang yang akan timbul pada masa yang akan datang. Oleh karena itu visi tidak akan berlaku untuk selamanya, tetapai ada masanya dimana visi harus berubah agar organisasi dapat bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: